EPISTEMOLOGI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manusia hidup didunia tidak hanya
memerlukan kebutuhan pokok saja. Akan tetapi manusia juga memerlukan informasi
untuk mengetahui keadaan di lingkungan sekitar mereka. Dalam upaya untuk
memperoleh informasi, manusia seringkali melakukan komunikasi ataupun cara-cara
lain yang bisa digunakan. Salah satu informasi yang didapat dari komunikasi
adalah pengetahuan. Pengetahuan sangat diperlukan bagi kehidupan manusia karena
dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan. Dalam mencari
pengetahuan, tak jarang manusia harus mempelajari Epistemologi. Epistemologi
disebut juga sebagai teori pengetahuan karena mengkaji seluruh tolok ukur
ilmu-ilmu manusia, termasuk ilmu logika dan ilmu-ilmu manusia yang bersifat
gamblang, merupakan dasar dan pondasi segala ilmu dan pengetahuan.
Sejak semula, epistemologi merupakan
salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit. Sebab
epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentang luas,
sehingga tidak ada sesuatu pun yang boleh disingkirkan darinya. Selain itu
pengetahuan merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan
ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan biasanya diandaikan begitu
saja. Oleh sebab itu, perlu diketahui apa saja yang menjadi dasar-dasar
pengetahuan yang dapat digunakan manusia untuk mengembangkan diri dalam
mengikuti perkembangan informasi yang pesat.
1.2. Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan
Epistemologi ?
2.
Bagaimana ruang lingkup Epistimologi
?
3.
Apa saja aliran- aliran yang ada
dalam Epistemologi ?
4.
Bagaimana pengaruh Epistemologi
terhadap peradaban manusia ?
1.3. Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui pengertian
Epistemologi
2.
Untuk mengetahui ruang lingkup
Epistemoligi
3.
Untuk
mengetahui aliran-aliran yang ada dalam Epistemologi
4.
Untuk
mengetahui pengaruh epistemologi bagi kehidupan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Epistemologi
Istilah “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu “episteme” yang
berarti pengetahuan dan ‘logos” berarti perkataan, pikiran, atau ilmu.
Kata “episteme” dalam bahasa Yunani berasal dari kata kerja epistamai,
artinya menundukkan, menempatkan, atau meletakkan. Maka, secara harafiah
episteme berarti pengetahuan sebagai upaya intelektual untuk menempatkan
sesuatu dalam kedudukan setepatnya. Bagi suatu ilmu pertanyaan yang mengenai definisi ilmu itu,
jenis pengetahuannya, pembagian ruang lingkupnya, dan kebenaran ilmiahnya,
merupakan bahan-bahan pembahasan dari epistemologinya.
Epistemologi sering juga disebut teori pengetahuan (theory
of knowledge). Epistemologi lebih memfokuskan kepada makna pengetahuan yang
berhubungan dengan konsep, sumber, dan kriteria pengetahuan, jenis pengetahuan,
dan lain sebagainya.
Beberapa
ahli yang mencoba mengungkapkan definisi dari pada epistemologi adalah P.
Hardono Hadi. Menurut beliau epistemologi adalah cabang filsafat yang
mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan,
pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggung jawaban atas pernyataan
mengenai pengetahuan yang dimiliki. Tokoh lain yang mencoba mendefinisikan
epistemoogi adalah D.W Hamlyin, beliau mengatakan bahwa epistemologi
sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup
pengetahuan, dasar dan pengandaian – pengandaian serta secara umum hal itu
dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.[1]
Runes dalam kamusnya menjelaskan bahwa epistemology is the branch of
philosophy which investigates the origin, stukture, methods and validity of knowledge.
Itulah sebabnya kita sering menyebutnya dengan istilah epistemologi untuk
pertama kalinya muncul dan digunakan oleh J.F Ferrier pada tahun 1854 (Runes,
1971-1994).[2]
2.2. Ruang Lingkup Epistemologi
M. Arifin
merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi hakekat, sumber dan validitas
pengetahuan. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek, yaitu hakikat, unsur,
macam, tumpuan, batas, dan sasaran pengetahuan. Bahkan, A.M Saefuddin
menyebutkan, bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah
ilmu itu, dari mana asalnya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun
ilmu yang tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu
yang benar, apa yang dapat kita ketahui, dan sampai dimanakah batasannya. Semua
pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah pokok ; masalah sumber ilmu
dan masalah benarnya ilmu. Mengingat
epistemologi mencakup aspek yang begitu luas, sampai Gallagher secara ekstrem
menarik kesimpulan, bahwa epistemologi sama luasnya dengan filsafat. Usaha
menyelidiki dan mengungkapkan kenyataan selalu seiring dengan usaha untuk
menentukan apa yang diketahui dibidang tertentu.
Dalam
pembahasa-pembahsan epistemologi, ternyata hanya aspek-aspek tertentu yang
mendapat perhatian besar dari para filosof, sehingga mengesankan bahwa seolah-olah
wilayah pembahasan epistemologi hanya terbatas pada aspek-aspek tertentu.
Sedangkan aspek-aspek lain yang jumlahnya lebih banyak cenderung diabaikan.
M. Amin
Abdullah menilai, bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak terbatas
pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara
konseptual-filosofis. Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak
membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. Sementara itu,
aspek-aspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi, atau
setidak-tidaknya kurang mendapat perhatian yang layak.
Namun,
penyederhanaan makna epistemologi itu berfungsi memudahkan pemahaman seseorang,
terutama pada tahap pemula untuk mengenali sistematika filsafat, khususnya
bidang epistemologi. Hanya saja, jika dia ingin mendalami dan menajamkan
pemahaman epistemologi, tentunya tidak bisa hanya memegangi makna epistemologi
sebatas metode pengetahuan, akan tetapi epistemologi dapat menyentuh pembahasan
yang amat luas, yaitu komponen-komponen yang terkait langsung dengan “bangunan”
pengetahuan.[3]
2.3. Aliran-Aliran Epistemologi
Ada beberapa aliran yang berbicara
tentang ini, diantaranya :
1. Empirisme
Kata empiris berasal dari kata
yunani empieriskos yang berasal dari kata empiria, yang artinya
pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya.
Dan bila dikembalikan kepada kata yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah
pengalaman inderawi. Manusia tahu es dingin karena manusia menyentuhnya, gula
manis karena manusia mencicipinya.
John locke (1632-1704) bapak aliran
ini pada zaman modern mengemukakan teori tabula rusa yang secara bahasa
berarti meja lilin. Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari
pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia
memiliki pengetahuan. Mula- mula tangkapan indera yang masuk itu sederhana,
lama-lama sulit, lalu tersusunlah pengetahuan berarti.berarti, bagaimanapun
kompleks (sulit)-nya pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada
pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukan pengetahuan
yang benar. Jadi, pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar.
Karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran
ini adalah metode eksperimen. Kesimpulannya bahwa aliran empirisme lemah karena
keterbatasan indera manusia. Misalnya benda yang jauh kelihatan kecil,
sebenarnya benda itu kecil ketika dilihat dari jauh sedangkan kalau dilihat
dari dekat benda itu besar.
2. Rasionalisme
Secara singkat aliran ini menyatakan
bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar
diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia, menurut aliran ini, menmperoleh
pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini adalah
Descartes (1596-1650). Descartes seorang filosof yang tidak puas dengan
filsafat scholastic yang pandangannya bertentangan, dan tidak ada kepastian
disebabkan oleh kurangnya metode berpikir yang tepat. Dan ia juga mengemukakan
metode baru, yaitu metode keragu-raguan. Jika orang ragu terhadap segala
sesuatu, dalam keragu-raguan itu jelas ia sedang berpikir. Sebab, yang sedang
berpikir itu tentu ada dan jelas ia sedang erang menderang. Cogito Ergo Sun
(saya berpikir, maka saya ada).
Rasio merupakan sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang
kepada kebenaran. Yang benar hanya tindakal akal yang terang benderang yang
disebut Ideas Claires el Distictes (pikiran yang terang benderang dan
terpilah-pilah). Idea terang benderang inilah pemberian tuhan seorang
dilahirkan ( idea innatae = ide bawaan). Sebagai pemberian tuhan, maka tak
mungkin tak benar. Karena rasio saja yang dianggap sebagai sumber kebenaran,
aliran ini disebut rasionlisme. Aliran rasionalisme ada dua macam , yaitu dalam
bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama , aliran
rasionalisme adalah lawan dari otoritas dan biasanya digunakan untuk
mengkritik ajran agama. Adapun dalam bidang filsafat, rasionalisme adalah
lawan dari empirisme dan sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan .
3. Positivisme
Tokoh aliaran ini adalah august compte
(1798-1857). Ia menganut paham empirisme. Ia berpendapat bahwa indera itu
sangat penting dalam memperoleh pengetahuan. Tetapi harus dipertajam dengan
alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera akan dapat
dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang jelas.
Misalnya untuk mengukur jarak kita harus menggunakan alat ukur misalnya
meteran, untuk mengukur berat menggunakan neraca atau timbangan misalnya kiloan
. Dan dari itulah kemajuan sains benar benar dimulai. Kebenaran diperoleh
dengan akal dan didukung oleh bukti empirisnya. Dan alat bantu itulah bagian
dari aliran positivisme. Jadi, pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran
yang dapat berdiri sendiri. Aliran ini menyempurnakan empirisme dan
rasionalisme.
4. Intuisionisme
Henri Bergson (1859-1941) adalah
tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatasa, akal juga
terbatas. Objek yang selalu berubah, demikian bargson. Jadi, pengetahuan kita
tentangnya tidak pernah tetap. Intelektual atau akal juga terbatas. Akal hanya
dapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek itu,
jadi dalam hal itu manusia tidak mengetahui keseluruhan (unique), tidak dapat
memahami sifat-sifat yang tetap pada objek. Misalnya manusia menpunyai
pemikiran yang berbeda-beda. Dengan menyadari kekurangan dari indera dan akal
maka bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia,
yaitu intuisi.[4]
5.
Kritisme
Aliran ini muncul pada abad ke-18 suatu
zaman baru dimana seseorang ahli pemikir yang cerdas mencoba menyelesaikan
pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme. Seorang ahli pikir jerman
Immanuel Kant (1724-18004) mencoba menyelesaikan persoalan diatas, pada
awalnya, kant mengikuti rasionalisme tetapi terpengaruh oleh aliran empirisme.
Akhirnya kant mengakui peranan akal harus dan keharusan empiris, kemudian dicoba
mengadakan sintesis. Walaupun semua pengetahuan bersumber pada akal
(rasionalisme), tetapi adanya pengertian timbul dari pengalaman (empirime).
Jadi, metode berpikirnya disebut metode
kiritis. Walaupun ia mendasarkan diri dari nilai yang tinggi dari akal, tetapi
ia tidak mengingkari bahwa adanya persoalan-persoalan yang melampaui akal.[5]
6.
Idealisme
Idealisme adalah suatu aliran yang
mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitan dengan
jiwa dan roh. Istilah idealisme diambil dari kata idea yaitu suatu yang
hadir dalam jiwa. Pandangan ini dimiliki oleh plato dan pada filsafat modern.
Idealisme mempunyai argumen
epistemologi tersendiri. Oleh karena itu, tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan
bahwa materi tergantung pada spirit tidak disebut idealisme karena mereka tidak
menggunakan argumen epistemologi yang digunakan oleh idealisme. Idealisme
secara umum berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah mazhab epistemologi
yang mengajarkan bahwa pengetahuan apriori atau deduktifdapat diperoleh dari
manusia denganakalnya[6]
2.4. Pengaruh Epistemologi
Secara global
epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. Suatu peradaban, sudah
tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Epistemologi mengatur semua aspek
studi manusia, dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu sosial. Epistemologi
dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh, ilmu-ilmu
mereka itu suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu
dipandang dari keyakinan, kepercayaan dan sistem nilai mereka. Epistemologilah
yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. Wujud sains dan teknologi yang
maju disuatu negara, karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan
epistemologi. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena alam, sehingga
kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi.
Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa
pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi
kehidupan manusia. Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. Meskipun
teknologi sebagai penerapan sains, tetapi jika dilacak lebih jauh lagi ternyata
teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi.
Epistemologi senantiasa mendorong manusia untuk selalu berfikir
dan berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. Semua bentuk
teknologi yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara epistemologis,
yaitu pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang bagaimana cara mewujudkan
sesuatu, perangkat-perangkat apa yang harus disediakan untuk mewujudkan sesuatu
itu, dan sebagainya.[7]
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Pengetahuan
dapat diperoleh melalui beberapa hal yaitu:
1. Pengetahuan
diperoleh dari akal, yakni pengetahuan yang didapatkan melalui proses berpikir
yang logis sehingga dapat diterima oleh akal. Dari sini memunculkan aliran
rasionalisme.
2. Pengetahuan
diperoleh dari pengalaman, yakni pengetahuan baru muncul ketika indera manusia
menimba pengalaman dengan cara melihat dan mengamati berbagai kejadian dalam
kehidupan, jadi ketika manusia lahir benar-benar dalam keadaan yang bersih dan
suci dari apapun. Aliran yang mempunyai paham ini adalah aliran empirisme.
3. Pengetahuan
diperoleh dari intuisi, yakni pengetahuan yang bersifat personal, dan hanya
orang-orang tertentu yang mendapatkan pengetahuan ini.
3.2. Saran
Manusia dalam berbuat tentunya terdapat
kesalahan yang sifatnya tersilap dari yang telah ditetapkan atau seharusnya.
Apalagi dalam kegiatan menyusun makalah ini. Untuk itu, penulis harapkan dari
pembaca, mohon kritik dan sarannya guna perbaikkan penyusunan
selanjutnya.
Pengertian
Ontologi
Ontologi
merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari
Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret.Tokoh
Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales,
Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum membedakan antara
penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah
sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan
asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa
mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga
sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).Ontologi terdiri dari dua
suku kata, yakni ontos dan logos . Ontos berarti sesuatuyang
berwujud (being ) dan logos berarti ilmu. Jadi ontologi adalah bidang
pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada
menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hukum sebab akibat yaitu ada
manusia, ada alam, dan ada kausa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh,
teratur, dan tertib dalam keharmonisan (Suparlan Suhartono, 2007). Ontologi
dapat pula diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada.
Obyek ilmu atau keilmuan itu adalah dunia empirik, dunia yang dapat dijangkau
panca indera.Dengan demikian, obyek ilmu adalah pengalaman inderawi. Dengan
kata lain,ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang
berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika semata. Pengertian ini
didukung pula oleh pernyataan Runes bahwa “ ontology is the theory of
being qua being ” , artinya ontologi adalah teori tentang wujud.Obyek
telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi
filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metafisika. Istilah ontologi banyak
digunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu.Ontologi
membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu.
Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran
semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap
kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang kita
lihat atau yang dapat ditangkap dengan panca indera senantiasa berubah.karena
itu, ia bukanlah hakikat, tetapi hanya bayangan, kopi atau gambaran dari
idea-ideanya. Dengan kata lain, benda-benda yang dapat ditangkap dengan panca
indera ini hanyalah khayal dan illusi belaka. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa ontologi mengkaji tentang “the study of the nature of existence and being
in the abstract” atau “ the science of being and universal
order ”. Argumen ontologis kedua dimajukan oleh St. Augustine
(354 – 430 M). Menurut Augustine, manusia mengetahui dari
pengalaman hidupnya bahwa dalam alam ini ada kebenaran. Namun, akal manusia
terkadang merasa bahwa ia mengetahui apa yang benar, tetapi terkadang pula
merasa ragu-ragu bahwa apa yang diketahui yaitu adalah suatu kebenaran.
Menurutnya, akal manusia mengetahui bahwa diatasnya masih ada suatu kebenaran
tetap (kebenaran yang tidak berubah-ubah),dan itulah yang menjadi sumber dan
cahaya bagi akal dalam usahanya mengetahui apa yang benar. Kebenaran tetap dan
kekal itulah kebenaran yang mutlak. Kebenaran mutlak inilah oleh Augustine
disebut Tuhan. Ontologi dapat mendekati masalah hakikat kenyataan dari dua
macam sudut pandang. Orang dapat mempertanyakan “kenyataan itu tunggal atau
jamak”? yang demikian ini merupakan pendekatan kuantitatif. Atau orang dapat
juga mengajukan pertanyaan, “Dalam babak terakhir apakah yang merupakan jenis
kenyataan itu?” yang demikian itu merupakan pendekatan secara kualitatif.
Ontologi ini pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh
tentang dunia ini dan berguna bagi studi ilmu-ilmu empiris (misalnya
antropologi, sosiologi, ilmu kedokteran, ilmu budaya, fisika, ilmu teknik dan
sebagainya). Ontologi sebagai cabang filsafat yang membicarakan tentang hakikat
benda bertugas untuk memberikan jawaban atas pertanyaan “apa sebenarnya
realitas benda itu? apakah sesuai dengan wujud penampakannya atau tidak?”. Dari
teori hakikat (ontologi) ini kemudian muncullah beberapa aliran dalam persoalan
keberadaan, yaitu:
1. Keberadaan
dipandang dari segi jumlah (kuantitas)
a. Monisme
Paham
ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu
saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal,
baik yang asal berupa materi ataupun berupa rohani. Tadak mungkin ada hakikat
masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah satunya merupakan
sumber yang pokok dan dominan menentukan perkembangan yang lainnya. Istilah
monisme oleh Thomas Davidson disebut dengan Block
Universe.
Aliran
yang menyatakan bahwa hanya satu keadaan fundamental. Kenyataan tersebut dapat
berupa jiwa, materi, Tuhan atau substansi lainnya yang tidak dapat diketahui.
b.
Dualisme
Aliran
ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal
sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani, benda dan ruh, jasad dan
spirit. Materi bukan muncul dari ruh, dan ruh bukan muncul dari benda.
sama-sama hakikat. kedua macam hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri
sendiri, sama-sama azali dan abadi. Hubungan keduanya menciptakan kehidupan
dalam alam ini.
Umumnya
manusia tidak akan mengalami kesulitan untuk menerima prinsip dualism ini,
karena setiap kenyataan lahir dapat segera ditangkap oleh pancaindera kita,
sedangkan kenyataan batin dapat segera diakui adanya oleh akal dan perasaan
hidup.
c. Pluralisme
Paham
ini berpendapat bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme
bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya
nyata. Pluralisme dalam Dictionary of
Philosophy and Religion dikatakan sebagai paham yang menyatakan bahwa
kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsure, lebih dari satu atau dua
entitas. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan
Empedocles yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri
dari 4 unsur, yaitu tanah, air, api dan udara.
2.
Keberadaan dipandang dari segi sifat, menimbulkan beberapa aliran, yaitu:
a.
Materialisme
Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani.
Aliran ini sering juga disebut dengan naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati
merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta. Yang ada hanyalah materi, yang
lainnya jiwa dan ruh tidaklah merupakan suatu kenyataan yang berdiri sendiri.
Jiwa atau ruh itu hanyalah merupakan akibat saja dari proses gerakan kebenaran
dengan salah satu cara tertentu.
b.
Idealisme
Sebagai
lawan materialisme adalah aliran idealisme yang dinamakan juga dengan
spiritualisme. Idealisme berarti serba cita, sedang spiritualisme berarti serba
ruh.
Idealisme
diambil dari kata “Idea”, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini
beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari
ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan
menempati ruang. Materi zat itu hanyalah suatu jenis dari pada penjelmaan
ruhani.
3.
Keberadaan dipandang dari segi proses, kejadian, atau perubahan.
a. Mekanisme
(serba
mesin), menyatakan bahwa semua gejala atau peristiwa dapat dijelaskan
berdasarkan asas mekanik (mesin).
b.
Teleologi
(serba
tujuan), berpendirian bahwa yang berlaku dalam kejadian alam bukanlah kaidah
sebab akibat tetapi sejak semula memang ada sesuatu kemauan atau kekuatan yang
mengarahkan alam ke suatu tujuan.
c.
Vitalisme,
memandang
bahwa kehidupan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan secara fisika, kimia, karena
hakikatnya berbeda dengan yang tak hidup.
d.Organisisme
(lawannya
mekanisme dan vitalisme). Menurut organisisme, hidup adalah suatu struktur yang
dinamik, suatu kebulatan yang memiliki bagian-bagian yang heterogen, akan
tetapi yang utama adalah adanya sistem yang teratur.
Susriasumantri,
Jujun S. 1987. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan.
Baktiar,
Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Ahmad
Tafsir. 2006. filsafat ilmu. Bandung: Rosdakarya.
Salam,
Burhanudin. 1997. Logika Materiil Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta:
Rineka Cipta
Ugm,
Tim Dosen Filsafat Ilmu. 2007. Filsafat
Ilmu. Yogyakarta
Susano,
A. 2011. Filsafat Ilmu Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis
Epistemologis, dan Aksiologis. Jakarta : PT. Bumiaksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar