BAB
l
PENDAHULUAN
1.1..Latar
Belakang
Terminologi perpustakaan dalam bahasa Inggris yaitu
library,dari istilah library atau perpustakaan selalu terkait dengan
istilah-istilah lain seperti pustaka,pustakawan, kepustakawanan, dan ilmu
perpustakaan. Secara realita perpustakaan masih dipahami sebagai sebuah ruangan
atau bagian dari sebuah gedung ataupun gedung tersendiri, yang digunakan untuk
menyimpan buku-buku dan terbitan lainnya atau bahan-bahan perpustakaan, yakni; proses
kinerjanya dengan cara mengorganisir, disusun secara teratur, sehingga ketika
pengguna membutuhkan informasi dapat dengan mudah menemukannya kembali. Bentuk
dan jenis bacaan bagi setiap orang tentu berbeda, yang sama adalah kegiatannya
yakni membaca dan mempelajari sesuatu. Adapun fungsi perpustakaan diantaranya
yaitu; menyimpan bahan-bahan perpustakaan,menyediakan bahan-bahan perpustakaan
untuk keperluan penelitian, menyimpan informasi bagi pemakai,menyimpan khasanah
budaya bangsa, dan sumber rekreasi bagi pengguna , serta tempat belajar seumur
hidup kepada masyarakat atau yang putus
sekolah karena kondisi ekonomi kurang memadai. Dalam kehidupan yang serba
modern dan cepat seperti saat ini semua orang membutuhkan informasi sebagai hal
yang fakta (nyata). Tanpa informaasi atau ketinggalan informasi akan membuat seseorang
terbelakang. Perpustakaan menjadi pusat informasi yang tidak pernah habisnya
untuk digali, ditimba dan dikembangkan, Bahkan melalui perpustakaan seseorang
dapat bertukar informasi dan saling memperoleh nilai tambah untuk perkembangan
zaman kearah yang lebih baik (maju).
Ketertarikan
penulis kepada perpustakaan sekolah yang berada dibawah naungan MAN 1 MEDAN
yang beralamat Jl.Willeam Iskandar No.7 Medan.Penulis bertekad untuk mengupas perpustakaan
tersebut dan melihat sejauh mana sistem pengorganisasian perpustakaan yang
diterapkan pada perpustakaan MAN 1 MEDAN.Sebagai dasar penulis memilih
perpustakaan sekolah adalah karena dalam meneliti pendidikan dibidang
perpustakaan yang sekiranya akan terasa lebih ringan. Penulis berharap suatu
saat akan bias meningkatkan kualitas perpustakaan tersebut.
1.2.
Tujuan observasi.
Adapun tujuan observasi ini adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui proses pengolahan perpustakaan dan koleksinya.
b. Mengetahui apakah yang mengelolanya seorang pustakawan atau bukan.
c. Mengetahui jumlah koleksi perpusatakaan sekolah tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Adapun tujuan observasi ini adalah sebagai berikut :
a. Mengetahui proses pengolahan perpustakaan dan koleksinya.
b. Mengetahui apakah yang mengelolanya seorang pustakawan atau bukan.
c. Mengetahui jumlah koleksi perpusatakaan sekolah tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Pengorganisasian Informasi.
Jenis-Jenis Pengorganisasian Informasi/Dokumen
- Natural Classification
ú The arrangement of books by subject is called a
fundamental, or natural calssification
- Accidental Classification
ú An accidental clssification is supplementary
arrangement of material “in a suborder according to time or period in which the
subject is considered, or according to the place with which it is concerned
- Artificial Classification
ú An artificial classification is one in which some accidental
property of things classified is adopted as the characteristic of arrangment.
It may be based on alphabet, language, number, form. Chronology, size, or other
characteristics
- Artificial Classification
- Alphabetical classification is the arrangement by author or subject in alphabetical order
- Linguistic classification is the arrangement by language throughout
Numerical
classification is the arragement according to the order of numerical symbol
(called by Richardson “ the price of artificial classification and servant of
all the natural callsification)
- Classification by form is the arrangement by type of publication
- Chronological classification is the arrangement by publication date or date of first edition of the works of any individual author in his particular language. It may also include the arrangement by accession to the library
- Classification by size separates books into categories acording to their physycal dimensions, usually in four groups; portfolio, folios, quartos, and ocatvos and smaller. This system is used in conserving space, and has been employed in larged in older libraries, storage collections, and in simplified cataloguing and classification project
- Within each size group, another classification system is used.
- Jenis Pengorganisasian biasanya dilakukan berdasarkan:
- physical form/characteristics (persamaan fisik sumber informasi/dokumen)
- content/subject (persamaan isi/subyek)
- presentation form (bentuk penyajian)
- intelectual form (bentuk intelektual):
- Pengelompokkan berdasarkan disiplin fundamental, mis: IPA, Geografi, Sejarah, Kesenian, dsb.
- Berdasarkan presentation form:
- Bentuk lambang:
- Bentuk seleksi, susunan, atau peragaan khusus
- Bentuk untuk kelompok pengguna tertentu, mis: Bahasa Inggris untuk Pustakawan, Dbase III plus untuk pustakawan, dsb.
2.2. Knowledge Managament
Maka definisi tentang knowledge management
berbeda-beda tergantung siapa yang mendefinisikan dan dalam konteks apa
definisi tersebut diterapkan.
Para profesional informasi seperti pustakawan, manajer rekod, dan arsiparis,
menekankan pada manajemen dokumen.
Ahli teknologi informasi seperti pengembang software, programmer,
dan teknologi serupa, menitikberatkan pada hardware, software, network
dan telekomunikasi.
Demikian juga ahli pendidikan, memiliki persepsi dan definisi sendiri
tentang knowledge management.
Meskipun knowledge management didefinisikan dan
diterapkan dalam berbagai lapangan yang berbeda, namun secara umum dapat
ditarik pengertian bahwa knowledge management menekankan:
l adanya usaha yang serius untuk meningkatkan sistem
kognisi (organisasi, manusia, komputer, atau gabungan manusia dan sistem
komputer);
l adanya aset-aset pengetahuan yang dikelola, yang berasal
dari dalam dan luar organisasi, individu atau kelompok;
l adanya proses pengadaan, pengolahan, penyimpanan, dan
penggunaan pengetahuan tersebut untuk mencapai tujuan tertentu;
l adanya penyebaran pengetahuan dan pengalaman baik melalui
akses langsung ke database maupun melalui sharing dan kolaborasi
ke lingkungan internal dan eksternal organisasi,
l adanya kreativitas dan inovasi menciptakan pengetahuan
baru.
Dimattia dan Oder (1997) mendefinisikan knowledge
management sebagai “pengaksesan, pengevaluasian, pengaturan,
pengorganisasian, penyaringan dan pendistribusian informasi dengan cara-cara
tertentu sehingga berguna bagi pemakai.
l Knowledge management sebagai suatu disiplin yang menawarkan sebuah pendekatan
terpadu untuk mengindentifikasi, mengumpulkan, mengevaluasi, menemukan kembali
dan memanfaatkan bersama aset-aset informasi badan korporasi.
l Aset-aset tersebut mencakup database, dokumen, kebijakan,
prosedur, keahlian serta pengalaman.
Pengetahuan (knowledge) sendiri memiliki
pengertian yang ambiguitas (tidak jelas). Tidak ada kesepakatan tentang apa
pengetahuan itu. Ada ilmuwan yang menyamakan pengetahuan dengan informasi, ada
pula yang membedakannya.
Wenig (1996) memberi definisi pengetahuan sebagai pemahaman terhadap proses
sistem kognitif.
Pengetahuan merupakan justified true believe
(membenarkan kebenaran atas kepercayaannya)
Pengetahuan merupakan sesuatu yang eksplitsit (terang,
nyata tegas sekaligus terbatinkan (tacit)
Penciptaan pengetahuan secara efektif bergantung pada
konteks yang memungkinkan terjadinya penciptaan tersebut
organisaPenciptaan pengetahuan melibatkan lima langkah
utama: berbagi tacit, menciptakan konsep, membenarkan konsep, membangun
prototype, dan melakukan penyebaran pengetahuan di berbagai fungsi dan tingkat
si
Struktur bidang pengetahuan sebagai pengantar kepada
klasifikasi perpustakaan (prolegmena to library classifcation) dapat
dibagi atas :
ú Decachotomy (decimal classification)
ú Polychotomy (expansive classification yang dibuat oleh
Charles A. Cutter)
ú Proliferation (perkembangbiakan –kompleks subyeks)
ú Unlimited proliferation
Manfaat Knowledge Management
Menurut Frappaolo dan Toms (2000), fungsi aplikasi knowledge management
dalam suatu organisasi ada lima, yaitu:
- Intermediation: yaitu peran perantara transfer pengetahuan antara penyedia dan pencari pengetahuan. Peran tersebut untuk mencocokkan (to match) kebutuhan pencari pengetahuan dengan sumber pengetahuan secara optimal. Dengan demikian, intermediation menjamin transfer pengetahuan berjalan lebih efisien.
- Externalization: yaitu transfer pengetahuan dari pikiran pemiliknya ke tempat penyimpanan (repository) eksternal, dengan cara seefisien mungkin. Externalization dengan demikian adalah menyediakan
- Internalization: adalah “pengambilan” (extraction) pengetahuan dari tempat penyimpanan eksternal, dan menyaringan pengetahuan tersebut untuk disediakan bagi pencari yang relevan. Pengetahuan harus disajikan bagi pengguna dalam bentuk yang lebih cocok dengan pemahamannya. Maka, fungsi ini mencakup interpretasi format ulang penyajian pengetahuan.
- Cognition adalah fungsi suatu sistem untuk membuat keputusan yang didasarkan atas ketersediaan pengetahuan. Cognition merupakan penerapan pengetahuan yang telah berubah melalui tiga fungsi terdahulu.
- Measurement, yaitu kegiatan knowledge management untuk mengukur memetakan dan mengkuantifikasi pengetahuan korporat dan performance dari solusi knowledge management. Fungsi ini mendukung empat fungsi lainnya, untuk mengelola pengetahuan itu sendiri.
Penerapan Knowledge Management di Perpustakaan
Ada tiga aspek yang berkaitan dengan penerapan knowledge management di
organisasi, sbb:
•
People
aspects, yaitu terdiri
dari pendidikan, pengembangan, rekrutmen, motivasi, organisasi, uraian
pekerjaan, perubahan budaya organisasi, dan mendorong adanya pengembangan
pemikiran, kerjasama dan partisipasi seluruh karyawan (share knowledge to creating
value through social interaction).
•
Process
aspects, yaitu terdiri
dari proses inovasi, continues improvement, dan perubahan radikal
seperti reengineering.
•
Technology
aspects, yaitu terdiri
dari informasi dan decision support system, knowledge based system, dan data
mining system.
•
Brooking
dalam Muralidhar (2000: 23), ada empat langkah strategis, yaitu:
▫
Identify
knowledge, yaitu mengidentifikasi pengetahuan, termasuk level
dan fungsinya yang sebenarnya
▫
Audit
knowledge, yaitu
mengidentifikasi pengetahuan optimal yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan
yang optimal
▫
Document
knowledge, yaitu
mendokumentasikan asset pengetahuan menggunakan sistem dan alat-alat berbasis
pengetahuan
▫
Disseminate
knowledge, yaitu
menyebarkan pengetahuan.
Menurut Bynton (1996) strategi tersebut mencakup:
•
Making
knowledge visible (mudah
digunakan: menentukan siapa mengetahui apa, dan klasifikasi keahlian)
•
Building knowledge intensity (penciptaan pengetahuan/hasanah lokal: training,
mengembangkan kecakapan; manajemen proses pengetahuan; dan jaringan)
•
Developing
a knowledge culture (mendorong
motivasi: nilai dan budaya, rewarding, sharing atau bertukar
pengetahuan, berbagi pemikiran dan pandangan, percaya satu sama lain)
•
Building
a knowledge infrastructure (memungkinkan
akses global melalui infrastruktur komunikasi: akses ke sumber-sumber informasi
dan pengetahuan, baik dari dalam maupun dari luar organisasi; menggunakan
metode dan alat-alat modern).
Penciptaan Pengetahuan
Davenport (1998: 52-67) menyebutkan ada 5 metode lain yang dapat
digunakan untuk menciptakan knowledge dalam perusahaan (five modes of
knowledge generation) yaitu sebagai berikut:
1. Acquisition, yaitu menyewa, membeli, atau merekrut orang atau
perusahaan yang telah memiliki intangible assets sesuai dengan kebutuhan
perusahaan. Intangible assets tersebut diharapkan dapat memberikan skill dan
pengalaman mereka untuk dikembangkan dalam perusahaan. Menyewa konsultan termasuk salah satunya.
2. Dedicated resources, yaitu menciptakan suatu unit kerja tertentu yang
bertanggung jawab terhadap pengembangan pemikiran/ide-ide baru. Pembentukan
atau pengembangan divisi sumber daya manusia adalah salah satu contoh.
3. Fusion, yaitu membangun kerjasama tim (teamwork) yang terdiri dari
berbagai orang dari latar belakang/perspektif keahlian yang berbeda-beda untuk
menciptakan sinergi.
4. Adaptation, yaitu
melakukan penyesuaian terhadap perkembangan pasar. Untuk hal ini sangat
dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu menyerap dan memanfaatkan new
knowledge dan skill secara cepat.
5. Networks, yaitu knowledge
yang dihasilkan dari pembentukan tim non struktural dan tim informal yang
dibentuk sendiri oleh pegawai berdasarkan minat tertentu. Jika tim-tim ini
semakin meluas dalam perusahaan maka network akan terbentuk. Networks dapat pula dibentuk melalui pembicaraan langsung, lewat telepon, lewat e-mail,
dan groupware untuk saling share expertise dan solve problem bersama-sama.
Proses Konversi Knowledge
Empat proses konversi knowledge (lihat Nonaka, 1995 : 62-70)
- Socialization adalah konversi dari tacit knowledge ke tacit knowledge. Proses mentransfer pengalaman untuk menciptakan tacit knowledge melalui aktivitas pengamatan, imitasi, dan praktek. Misalnya terjadi ketika seorang individu berbagi tacit knowledge secara langsung dengan orang lain, seperti melalui diskusi, seminar, percakapan dan sebagainya. Proses ini tidak cukup hanya dilakukan dengan mendengarkan dan berpikir.
- Externalization adalah konversi dari tacit knowledge ke explicit knowledge. Proses mengungkapkan dan menterjemahkan tacit knowledge ke dalam konsep yang eksplisit seperti buku, manual, laporan, dan sebagainya.
- Combination adalah konversi dari explicit knowledge ke explicit knowledge. Proses mengkombinasikan explicit knowledge yang berbeda menjadi explicit knowledge yang baru melalui analisis, pengelompokan, dan penyusunan kembali. Alat untuk melakukan proses ini misalnya database dan computer network.
- Internalization adalah konversi dari explicit knowledge ke tacit knowledge. Proses penyerapan explicit knowledge, terjadi ketika explicit knowledge dimanfaatkan bersama (sharing) melalui organisasi dan jaringan informasi untuk memperluas mengkerangkakan kembali (reframe) dan mengembangkan tacit knowledge-nya. Biasanya dilakukan melalui belajar sambil bekerja atau melakukan simulasi (lihat Kirk, 1999; Malhotra, 1997; Malhotra, 2000).
Proses Pengadaan Pengetahuan
•
Pengadaan
pengetahuan merupakan langkah mengumpulkan aset-aset pengetahuan yang
dihasilkan oleh proses penciptaan pengetahuan. Pengetahuan tidak hanya dapat
diraih dari buku manual atau literatur, tetapi pengetahuan juga dapat diraih
dengan metafora, intuisi, dan pengalaman.
•
Peran
perpustakaan pada tahap ini adalah menciptakan penyimpanan pengetahuan (create
knowledge repositories) yang terintegrasi dengan sistem perpustakaan,
misalnya: database buku, jurnal dan lain-lain.
•
Pengadaan
pengetahuan lazim juga disebut juga dengan perekaman pengetahuan (knowledge
capture). Proses knowledge capture memerlukan kemampuan penyimpanan
dan kode yang terprogram untuk menyimpan modal pengetahuan dalam bentuk
terbacakan mesin.
•
Kegiatan
dalam proses ini misalnya: untuk tacit melalui wawancara, brainstroming,
konsultasi, dll.; untuk explicit dengan pembelian buku, download,
fotokopi, dll.
Penyaringan Pengetahuan
•
Dalam
praktiknya pengetahuan diperoleh melalui suatu seleksi atau proses penyaringan
(filtering process). Proses ini berguna untuk mempertimbangkan mana
informasi yang tepat untuk digunakan dan mana yang harus diabaikan. Keputusan
untuk meneriman atau menolak sangat bergantung pada persepsi atau relevansi
informasi dalam konteks kedekatan (immediate context). Elemen dasar
seperti proses yang digambarkan berikut, menunjukkan bahwa seseorang harus
memutuskan informasi mana yang akan diambil untuk menambah tempat penyimpanan
pengetahuannya.
•
Faktor
utama yang menentukan mana informasi yang akan dinilai, adalah relevansi
informasi bagi penerima. Relevansi juga berarti bahwa seseorang akan lebih
memperhatikan ke informasi yang berhubungan dengan minatnya atau kepada problem
yang sedang dihadapi.
•
Kegiatan
ini lebih dekat kepada pengolahan explicit knowledge, atau knowledge yang
telah terekam. Di tingkat
organisasi misalnya seperti perpustakaan dikenal dengan istilah klasifikasi,
yaitu kegiatan yang berhubungan dengan representasi pengetahuan yaitu penomoran
bahan pustaka. Pemberian nomor berdasarkan klasifikasi desimal DDC untuk
koleksi berbentuk hardcopy. Sedang dalam lingkungan internet (web resource
description and discovery), untuk koleksi berbentuk digital digunakan
standar metadata Dublin Core.
•
Metadata
adalah data yang terstruktur, dilengkapi dengan kode, mendeskripsikan ciri-ciri
satuan-satuan pembawa informasi, dan membantu identifikasi, penemuan,
penilaian, dan pengelolaan satuan pembawa informasi tersebut (Aditirto, 2001:
10).
Sistem Organisasi Pengetahuan atau Knowledge
Organization Systems
(KOSs)
•
Sistem
Organisasi Pengetahuan atau Knowledge Organization Systems (KOSs) untuk perpustakaan digital dapat dikelompokkan
menjadi tiga, yaitu:
▫
Daftar
istilah (term list), yang menekankan pada daftar istilah bahkan dengan
definisinya. Kelompok ini
terdiri dari authority files, glossary, kamus dan gazetteer.
▫
Klasifikasi
dan kategori-kategori (classification and categories), yang menekankan
pada pembuatan seperangkat subyek, yang terdiri dari tajuk subyek, bagan
klasifikasi, taksonomi, dan bagan kategori.
▫
Daftar
antar-hubungan (relationship list), yang menekankan pada hubungan antar
istilah-istilah dan konsep-konsep yang terdiri atas thesaurus, semantic
network dan ontologis.
•
Sistem
organisasi pengetahuan ini digunakan untuk organisasi materi dan tujuan
mengelola koleksi dan sistem temu kembali. Sistem bertindak sebagai jembatan
antara kebutuhan informasi pemakai dengan materi dalam koleksi.
•
Untuk
kegiatan dalam organisasi misal seperti perpustakaan rules yang
digunakan dalam proses ini telah berbentuk tertulis. Misalnya: Standar
klasifikasi desimal (DDC), Dublin Core, KOSs, dll. Namun jika kegiatan tersebut
dilakukan oleh agen, rules tergantung pada bagaimana ia mengorganisasi
pengetahuan yang ia miliki. Misal: dengan membuat struktur kategori folder di
komputer berdasarkan bidang-bidang tertentu, dll.
Penyimpanan Pengetahuan
•
Kegiatan
pengorganisasian selalu diikuti dengan kegiatan penyimpanan. Jika kegiatan
dilakukan di tingkat organisasi, pengetahuan disimpan dalam penyimpanan
pengetahuan (knowledge repository) misalnya: server, yang dapat diakses
secara kolektif untuk pemanfaatan bersama. Adanya knowledge repository ini
dan ketersediaan data di dalamnya merupakan prasyarat terjadinya pertukaran dan
penggabungan pengetahuan yang memungkinkan terciptanya pengetahuan baru.
•
Teknologi
informasi yang dapat digunakan dalam proses ini adalah Relational Database
Management System (RDBMS), misalnya: database katalog seperti OPAC,
WEBPAC dll.
•
Untuk
tingkat individu biasanya proses ini dilakukan sendiri-sendiri dan tergantung
pada individu yang melakukan proses. Biasanya pengetahuan disimpan dalam
penyimpanan milik pribadi, misalnya harddisk komputer kerja atau
komputer sendiri, USB dan disket.
Penyebaran dan Akses Pengetahuan
•
Penyebaran
pengetahuan bisa dilakukan dengan meningkatkan akses (improve knowledge
access) dan transfer pengetahuan organisasi, seperti melalui penciptaan
jaringan pakar (expert networks) di mana individu dengan keahlian yang
diharapkan, terorganisasi secara formal dalam suatu jaringan dan melakukan
kontak satu sama lain, menggalang komunitas dengan minat yang sama (creating
a community of interest).
•
Strategi
penyebaran pengetahuan dapat berdasarkan permintaan pemakai misalnya untuk
akses secara langsung dan cepat terhadap sumber-sumber pengetahuan, dan
kapasitas teknologi untuk menyebarkan informasi secara simultan dan murah. Hal
tersebut dimungkinkan oleh kecanggihan dan keterjangkauan situs Internet
sebagai jalan raya informasi global, yang terbuka untuk semua orang dengan
sarana komputer, modem dan telepon (lihat Fahmi, 2001)
Pemanfaatan Pengetahuan
•
Pemanfaatan
pengetahuan explicit (dengan cara akses dan sharing) dan tacit
(dengan cara dialog dan learning) akan melahirkan ide-ide baru yang
menjadi awal terciptanya pengetahuan baru. Proses ini terjadi, hanya
dimungkinkan terbukanya akses ke sumberdaya pengetahuan kolektif.
•
Akses
pengetahuan adalah suatu proses pengambilan (extraction) pengetahuan dari
knowledge repository.
•
Beberapa
hal yang berkaitan dengan akses adalah:
keanggotaan (membership), ketersediaan data (misal: full teks,
abstrak, dll.), dan layanan yang bersifat terbuka untuk siapa saja. Teknologi
yang dibutuhkan dalam proses ini adalah teknologi untuk knowledge sharing.
Dengan mengelola knowledge,
maka pustakawan akan semakin kreatif dan inovatif sehinggga kemampuannya dalam
menghasilkan produk atau melakukan pelayanan meningkat.
2.3.
Perpustakaan
2.4. Pengawasan sirkulasi
Jenis/Variasi Bagan Klasifikasi
- Menurut Ranganathan ada tiga maksud/tujun dasar dari pengorganisasian informasi di perpustakaan
ú Storage if onformation in helful sequence (menyimpan informasi dalam tata urutan/susunan yang
bermanfaat/berguna)
ú Retrieval on demand or in anticipation of demand
information pi-pointely, exhaustively, and irrelevant information (tuntutan/ permintaan untuk temubalik atau untuk
mengantisipasi permintaan informasi
Balanced selection of book and other reading materials
for a library in correlation to interest of its clientele.
2.5.
Landasn teori
2.6.Ilmu
perpustakaaan
Ilmu perpustakaan (Inggris: library science) adalah bidang
interdisipliner yang m. enggabungkan ilmu sosial,
ilmu hukum,
dan ilmu
terapan untuk mempelajari topik yang berkaitan dengan perpustakaan.
Ilmu perpustakaan ini mempelajari mengenai cara pengumpulan, pengorganisasian,
pengawetan, dan penyebarluasan sumber informasi yang ada di suatu
perpustakaan, serta berkaitan dengan nilai ekonomi dan politis dari informasi
pada umumnya.
Pada mulanya ilmu
perpustakaan lebih membahas mengenai ilmu pengarsipan. Hal ini berkaitan
dengan cara penataan sumber informasi dengan sistem klasifikasi perpustakaan
dan teknologi untuk mendukung maksud ini. Topik ini juga berkaitan dengan
bagaimana pengguna jasa informasi ini mengakses, menelusuri, dan memanfaatkan
informasi. Dan satu aspek lagi yang tidak kalah penting adalah etika dalam
penataan dan pelayanan informasi, serta status legal dari suatu perpustakaan
sebagai sumber informasi.
Secara akademis, mata kuliah
dalam ilmu perpustakaan biasanya meliputi: manajemen koleksi, sistem
informasi dan teknologi, kataloging, klasifikasi, cara pengawetan, referensi,
statistika dan manajemen. Ilmu perpustakaan juga berkembang sejalan dengan
perkembangan teknologi komputer, oleh karena itu topik tentang sistem informasi manajemen, manajemen basis data,
arsitektur informasi, dan manajemen pengetahuan juga menjadi bagian
mata kuliah penting dalam pembahasan ilmu perpustakaan menuju suatu perpustakaan digital. Ilmu Perpustakaan
biasanya juga berhubungan dengan dokumentasi dan kearsipan.
2.8 pengklasifikasian informasi
l Klasifikasi adalah kegiatan pengindeksan subjek yang
menghasilkan nomor kelas (notasi) sebagai deskripsi indeks.
l Nomor klasifikasi ditentukan dengan menggunakan sarana
bantu standar internasional seperti:
¡ Dewey Decimal Classification (DDC)
¡ Universal Decimal Classification (UDC)
¡ Library of
Congress Classification (LC), dll
l Berikut ini adalah sepuluh golongan utama berdasarkan
DDC:
000
Karya-karya umum
100 Filsafat dan psikologi
200 Agama
300 Ilmu-ilmu sosial
400 Bahasa
500 Ilmu-ilmu murni
600 Teknologi (ilmu terapan)
700 Kesenian
800 Kesusasteraan
900 Geografi, Biografi, Sejarah
100 Filsafat dan psikologi
200 Agama
300 Ilmu-ilmu sosial
400 Bahasa
500 Ilmu-ilmu murni
600 Teknologi (ilmu terapan)
700 Kesenian
800 Kesusasteraan
900 Geografi, Biografi, Sejarah
BAB III
GAMBARAN UMUM
GAMBARAN UMUM
3.1 Jenis Perpustakaan
Perpustakaan sebagai objek observasi
penulis adalah perpustakaan sekolah. Pemilihan ini berdasarkan kemempuan penuis
sebagai pemula dalam meniti jenjang perkuliahan. Perpustakaan sekolah terasa
slebih mudah dari pada perpustakaan yang lainnya seperti perpustakaan daerah,
perpustakan universitas dan yang lainnya.
BAB
IV
HASIL
PENELITIAN
4.1 SEJARAH SINGKAT
Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri ( MAN ) 1 Medan yang
beralamat di Jl. Willeam Iskandar No. 7B Medan – Sumatera Utara 20222 , dan berdiri
pada tahun 1993. ,
4.2 GEDUNG PERPUSTAKAAN
Gedung perpustakaan dengan
volume bangunan sekitar 320 m3
, dengan Panjang 20 m, Lebar 8 m, dan Tinggi 4 m difasilitasi dengan :
> Tempat membaca; > Tempat Sirkulasi Umum;
> Tempat Pengolahan; > Tempat sholat ,dan kamar mandi.
4.3 FUNGSI DAN TUJUAN
1. Fungsi
:
> Pendidikan;
> menyebarkan informasi;
> Rekreasi;
> Dokumentasi;
> Sumber kebudayaan;
2.Tujuan
>
Menyediakan Bahan Pustaka; > Menimbulkan minat baca siswa-siswi;
> Menambah pengetahuan siswa-siswi; > Mengembangankan Informasi budaya ;
> Menyediakan tempat belajar.
4.4 STAF PERPUSTAKAAN
Staf
perpustakaan MAN 1 Medan saat ini hanya
berjumlah tiga orang sebagai berikut:
|
NO
|
NAMA
|
TUGAS
|
|
1.
|
Latifa
Hanum, S.pdi
|
Pustakawan
|
|
2.
|
Sri
Rahma Wati, S.pdi
|
Pustakawan
|
|
3.
|
Rahmat
Baktiar
|
Pustakawan
|
Ketiga
pustakawan ini yang melakukan semua
kegiatan diperpustakaan yang meliputi pengadaan sampai Peminjaman.
4.5 LAYANAN
a. Jenis
Layanan Perpustakaan :
> Buku referensi
(ensiklopedia,,kamus )
>
Koleksi Umum ( majalah, novel )
b. Peraturan
peminjaman buku di Perpustakaan :
> Buku yang hilang atau rusak ditanggung oleh sipeminjam; > Buku hanya dapat
dipinjamkan jika memperlihatkan kartu peminjam;
>
Buku-buku yang berharga , kamus ,ensiklopedia, dan buku yang 2
(dua) set tidak dipinjamkan;
> Keterlambatan mengambalikan
buku dikenakan denda Rp 100; / hari
>
Jangka waktu peminjaman 1 minggu ;
>
Mengisi daftar
pengunjung;
> dan Peminjam harus menaati peraturan
Perpustakaan.
c. Jam
layanan
> Perpustakaan buka hari senin s/d sabtu
> Jam layanan: pukul 09.00-13.00
4.6 PENGADAAN
Pengadaan bahan pustaka di
Perpustakaan MAN 1 Medan dilakukan melalui:
- Bantuan dari Dinas Pendidikan;
- Bantuan dari sekolah-sekolah lain;
- Kenang-kenangan dari siswa-siswi alumni;
- Partisipasi Bapak/ Ibu guru dari MAN 1.Medan;
- Bantuan dari departemen Agama
- Dan dorongan dari masyarakat .
Proses seleksi bahan pustaka di perpustakaan ini
berdasarkan kebutuhan pelajar. Alat
bantu yang digunakan dalam proses
seleksi menggunakan data secara manual.
|
NO
|
JENIS KOLEKSI
|
JUMLAH
|
|
|
TA.12/13
|
|||
|
JUDUL
|
EKSEMPLAR
|
||
|
1
|
Buku
|
1850
|
3250
|
BAB
V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN DAN
SARAN
5.1.1 KESIMPULAN
Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri
1 Medan merupakan perpustakaan sekolah yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan
pendidikan Aliyah . Perpustakaan
mempunyai tujuan utama untuk membantu meningkatkan mutu pendidikan siswa-siswi
Madrasah Aliyah Negeri 1. Medan.
5.1.2 SARAN
Saran penulis adalah sebagai
berikut:
1. Perlunya perubahan system dari manual kesistem komputerisasi.
1. Perlunya perubahan system dari manual kesistem komputerisasi.
2. Memperbaharui atau menambah
koleksi perpustakaan sesuai denga kurikulum.
3. Perlunya penambahan ruangan.
4. Penambahan Staf.
DAFTAR
PUSTAKA
Dewiyana, Himma.2012.Knowledge Management. ; Medan
Hasugian, Jonner.2009. Pengantar Ilmu Perpustakaan dan Informasi.
Medan : USU Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar