Pengikut

Senin, 02 Oktober 2017

LAPORAN OBSERVASI MAN 1 MEDAN 2013




BAB l
PENDAHULUAN



1.1..Latar Belakang
            Terminologi perpustakaan dalam bahasa Inggris yaitu library,dari istilah library atau perpustakaan selalu terkait dengan istilah-istilah lain seperti pustaka,pustakawan, kepustakawanan, dan ilmu perpustakaan. Secara realita perpustakaan masih dipahami sebagai sebuah ruangan atau bagian dari sebuah gedung ataupun gedung tersendiri, yang digunakan untuk menyimpan buku-buku dan terbitan lainnya atau bahan-bahan perpustakaan, yakni; proses kinerjanya dengan cara mengorganisir, disusun secara teratur, sehingga ketika pengguna membutuhkan informasi dapat dengan mudah menemukannya kembali. Bentuk dan jenis bacaan bagi setiap orang tentu berbeda, yang sama adalah kegiatannya yakni membaca dan mempelajari sesuatu. Adapun fungsi perpustakaan diantaranya yaitu; menyimpan bahan-bahan perpustakaan,menyediakan bahan-bahan perpustakaan untuk keperluan penelitian, menyimpan informasi bagi pemakai,menyimpan khasanah budaya bangsa, dan sumber rekreasi bagi pengguna , serta tempat belajar seumur hidup kepada masyarakat atau  yang putus sekolah karena kondisi ekonomi kurang memadai. Dalam kehidupan yang serba modern dan cepat seperti saat ini semua orang membutuhkan informasi sebagai hal yang fakta (nyata). Tanpa informaasi atau ketinggalan informasi akan membuat seseorang terbelakang. Perpustakaan menjadi pusat informasi yang tidak pernah habisnya untuk digali, ditimba dan dikembangkan, Bahkan melalui perpustakaan seseorang dapat bertukar informasi dan saling memperoleh nilai tambah untuk perkembangan zaman kearah yang lebih baik (maju).
            Ketertarikan penulis kepada perpustakaan sekolah yang berada dibawah naungan MAN 1 MEDAN yang beralamat Jl.Willeam Iskandar No.7 Medan.Penulis bertekad untuk mengupas perpustakaan tersebut dan melihat sejauh mana sistem pengorganisasian perpustakaan yang diterapkan pada perpustakaan MAN 1 MEDAN.Sebagai dasar penulis memilih perpustakaan sekolah adalah karena dalam meneliti pendidikan dibidang perpustakaan yang sekiranya akan terasa lebih ringan. Penulis berharap suatu saat akan bias meningkatkan kualitas perpustakaan tersebut.

1.2. Tujuan observasi.
            Adapun tujuan observasi ini adalah sebagai berikut :
 a. Mengetahui proses pengolah
an perpustakaan dan koleksinya.
 b. Mengetahui apakah yang mengelolanya seorang pustakawan atau bukan.
 c. Mengetahui jumlah koleksi perpusatakaan sekolah tersebut.


                                                              BAB II

                                                     
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengorganisasian Informasi.
Jenis-Jenis Pengorganisasian Informasi/Dokumen
  • Natural Classification
ú  The arrangement of books by subject is called a fundamental, or natural calssification
  • Accidental Classification
ú  An accidental clssification is supplementary arrangement of material “in a suborder according to time or period in which the subject is considered, or according to the place with which it is concerned
  • Artificial Classification
ú  An artificial classification is one in which some accidental property of things classified is adopted as the characteristic of arrangment. It may be based on alphabet, language, number, form. Chronology, size, or other characteristics
  • Artificial Classification
    1. Alphabetical classification is the arrangement by author or subject in alphabetical order
    2. Linguistic classification is the arrangement by language throughout
            Numerical classification is the arragement according to the order of numerical symbol (called by Richardson “ the price of artificial classification and servant of all the natural callsification)
    1. Classification by form is the arrangement by type of publication
    2. Chronological classification is the arrangement by publication date or date of first edition of the works of any individual author in his particular language. It may also include the arrangement by accession to the library
    3. Classification by size separates books into categories acording to their physycal dimensions, usually in four groups; portfolio, folios, quartos, and ocatvos and smaller. This system is used in conserving space, and has been employed in larged in older libraries, storage collections, and in simplified cataloguing and classification project
      1. Within each size group, another classification system is used.
  1. Jenis Pengorganisasian biasanya dilakukan berdasarkan:
    1. physical form/characteristics (persamaan fisik sumber informasi/dokumen)
    2. content/subject (persamaan isi/subyek)
    3. presentation form (bentuk penyajian)
    4. intelectual form (bentuk intelektual):
      1. Pengelompokkan berdasarkan disiplin fundamental, mis: IPA, Geografi, Sejarah, Kesenian, dsb.
  2. Berdasarkan presentation form:
    1. Bentuk lambang:
    2. Bentuk seleksi, susunan, atau peragaan khusus
    3. Bentuk untuk kelompok pengguna tertentu, mis: Bahasa Inggris untuk Pustakawan, Dbase III plus untuk pustakawan, dsb.

2.2.  Knowledge Managament
Maka definisi tentang knowledge management berbeda-beda tergantung siapa yang mendefinisikan dan dalam konteks apa definisi tersebut diterapkan.
Para profesional informasi seperti pustakawan, manajer rekod, dan arsiparis, menekankan pada manajemen dokumen.
Ahli teknologi informasi seperti pengembang software, programmer, dan teknologi serupa, menitikberatkan pada hardware, software, network dan telekomunikasi.
Demikian juga ahli pendidikan, memiliki persepsi dan definisi sendiri tentang knowledge management.
Meskipun knowledge management didefinisikan dan diterapkan dalam berbagai lapangan yang berbeda, namun secara umum dapat ditarik pengertian bahwa knowledge management menekankan:
l  adanya usaha yang serius untuk meningkatkan sistem kognisi (organisasi, manusia, komputer, atau gabungan manusia dan sistem komputer);
l  adanya aset-aset pengetahuan yang dikelola, yang berasal dari dalam dan luar organisasi, individu atau kelompok;
l  adanya proses pengadaan, pengolahan, penyimpanan, dan penggunaan pengetahuan tersebut untuk mencapai tujuan tertentu;
l  adanya penyebaran pengetahuan dan pengalaman baik melalui akses langsung ke database maupun melalui sharing dan kolaborasi ke lingkungan internal dan eksternal organisasi,
l  adanya kreativitas dan inovasi menciptakan pengetahuan baru.



Dimattia dan Oder (1997) mendefinisikan knowledge management sebagai “pengaksesan, pengevaluasian, pengaturan, pengorganisasian, penyaringan dan pendistribusian informasi dengan cara-cara tertentu sehingga berguna bagi pemakai.
l  Knowledge management sebagai suatu disiplin yang menawarkan sebuah pendekatan terpadu untuk mengindentifikasi, mengumpulkan, mengevaluasi, menemukan kembali dan memanfaatkan bersama aset-aset informasi badan korporasi.
l  Aset-aset tersebut mencakup database, dokumen, kebijakan, prosedur, keahlian serta pengalaman.
Pengetahuan (knowledge) sendiri memiliki pengertian yang ambiguitas (tidak jelas). Tidak ada kesepakatan tentang apa pengetahuan itu. Ada ilmuwan yang menyamakan pengetahuan dengan informasi, ada pula yang membedakannya.
Wenig (1996) memberi definisi pengetahuan sebagai pemahaman terhadap proses sistem kognitif.
Pengetahuan merupakan justified true believe (membenarkan kebenaran atas kepercayaannya)
Pengetahuan merupakan sesuatu yang eksplitsit (terang, nyata tegas sekaligus terbatinkan (tacit)
Penciptaan pengetahuan secara efektif bergantung pada konteks yang memungkinkan terjadinya penciptaan tersebut
organisaPenciptaan pengetahuan melibatkan lima langkah utama: berbagi tacit, menciptakan konsep, membenarkan konsep, membangun prototype, dan melakukan penyebaran pengetahuan di berbagai fungsi dan tingkat si
Struktur bidang pengetahuan sebagai pengantar kepada klasifikasi perpustakaan (prolegmena to library classifcation) dapat dibagi atas :
ú  Decachotomy (decimal classification)
ú  Polychotomy (expansive classification yang dibuat oleh Charles A. Cutter)
ú  Proliferation (perkembangbiakan –kompleks subyeks)
ú  Unlimited proliferation
Manfaat Knowledge Management
Menurut Frappaolo dan Toms (2000), fungsi aplikasi knowledge management dalam suatu organisasi ada lima, yaitu:
      1. Intermediation: yaitu peran perantara transfer pengetahuan antara penyedia dan pencari pengetahuan. Peran tersebut untuk mencocokkan (to match) kebutuhan pencari pengetahuan dengan sumber pengetahuan secara optimal. Dengan demikian, intermediation menjamin transfer pengetahuan berjalan lebih efisien.
      2. Externalization: yaitu transfer pengetahuan dari pikiran pemiliknya ke tempat penyimpanan (repository) eksternal, dengan cara  seefisien mungkin. Externalization dengan demikian adalah menyediakan
      3. Internalization: adalah “pengambilan” (extraction) pengetahuan dari tempat penyimpanan eksternal, dan menyaringan pengetahuan tersebut untuk disediakan bagi pencari yang relevan. Pengetahuan harus disajikan bagi pengguna dalam bentuk yang lebih cocok dengan pemahamannya. Maka, fungsi ini mencakup interpretasi format ulang penyajian pengetahuan.
      4. Cognition adalah fungsi suatu sistem untuk membuat keputusan yang didasarkan atas ketersediaan pengetahuan. Cognition merupakan penerapan pengetahuan yang telah berubah melalui tiga fungsi terdahulu.
      5. Measurement, yaitu kegiatan knowledge management untuk mengukur memetakan dan mengkuantifikasi pengetahuan korporat dan performance dari solusi knowledge management. Fungsi ini mendukung empat fungsi lainnya, untuk mengelola pengetahuan itu sendiri.

Penerapan Knowledge Management di Perpustakaan
Ada tiga aspek yang berkaitan dengan penerapan knowledge management di organisasi, sbb:
         People aspects, yaitu terdiri dari pendidikan, pengembangan, rekrutmen, motivasi, organisasi, uraian pekerjaan, perubahan budaya organisasi, dan mendorong adanya pengembangan pemikiran, kerjasama dan partisipasi seluruh karyawan (share knowledge to creating value through social interaction).
         Process aspects, yaitu terdiri dari proses inovasi, continues improvement, dan perubahan radikal seperti reengineering.
         Technology aspects, yaitu terdiri dari informasi dan decision support system, knowledge based system, dan data mining system.
         Brooking dalam Muralidhar (2000: 23), ada empat langkah strategis, yaitu:
         Identify knowledge, yaitu  mengidentifikasi pengetahuan, termasuk level dan fungsinya yang sebenarnya
         Audit knowledge, yaitu mengidentifikasi pengetahuan optimal yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan yang optimal
         Document knowledge, yaitu mendokumentasikan asset pengetahuan menggunakan sistem dan alat-alat berbasis pengetahuan
         Disseminate knowledge, yaitu menyebarkan pengetahuan.
Menurut Bynton (1996) strategi tersebut mencakup:
         Making knowledge visible (mudah digunakan: menentukan siapa mengetahui apa, dan klasifikasi keahlian)
          Building knowledge intensity (penciptaan pengetahuan/hasanah lokal: training, mengembangkan kecakapan; manajemen proses pengetahuan; dan jaringan)
         Developing a knowledge culture (mendorong motivasi: nilai dan budaya, rewarding, sharing atau bertukar pengetahuan, berbagi pemikiran dan pandangan, percaya satu sama lain)
         Building a knowledge infrastructure (memungkinkan akses global melalui infrastruktur komunikasi: akses ke sumber-sumber informasi dan pengetahuan, baik dari dalam maupun dari luar organisasi; menggunakan metode dan alat-alat modern).
Penciptaan Pengetahuan
Davenport (1998: 52-67) menyebutkan ada 5 metode lain yang dapat digunakan untuk menciptakan knowledge dalam perusahaan (five modes of knowledge generation) yaitu sebagai berikut:
1. Acquisition, yaitu menyewa, membeli, atau merekrut orang atau perusahaan yang telah memiliki intangible assets sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Intangible assets tersebut diharapkan dapat memberikan skill dan pengalaman mereka untuk dikembangkan dalam perusahaan. Menyewa konsultan termasuk salah satunya.
2. Dedicated resources, yaitu menciptakan suatu unit kerja tertentu yang bertanggung jawab terhadap pengembangan pemikiran/ide-ide baru. Pembentukan atau pengembangan divisi sumber daya manusia adalah salah satu contoh.
3. Fusion, yaitu membangun kerjasama tim (teamwork) yang terdiri dari berbagai orang dari latar belakang/perspektif keahlian yang berbeda-beda untuk menciptakan sinergi.
4. Adaptation, yaitu melakukan penyesuaian terhadap perkembangan pasar. Untuk hal ini sangat dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu menyerap dan memanfaatkan new knowledge dan skill secara cepat.
5. Networks, yaitu knowledge yang dihasilkan dari pembentukan tim non struktural dan tim informal yang dibentuk sendiri oleh pegawai berdasarkan minat tertentu. Jika tim-tim ini semakin meluas dalam perusahaan maka network akan terbentuk. Networks dapat pula dibentuk melalui pembicaraan langsung, lewat telepon, lewat e-mail, dan groupware untuk saling share expertise dan solve problem bersama-sama.
Proses Konversi Knowledge
Empat proses konversi knowledge (lihat Nonaka, 1995 : 62-70)
  1. Socialization adalah konversi dari tacit knowledge ke tacit knowledge. Proses mentransfer pengalaman untuk menciptakan tacit knowledge melalui aktivitas pengamatan, imitasi, dan praktek. Misalnya terjadi ketika seorang individu berbagi tacit knowledge secara langsung dengan orang lain, seperti melalui diskusi, seminar, percakapan dan sebagainya. Proses ini tidak cukup hanya dilakukan dengan mendengarkan dan berpikir.
  2. Externalization adalah konversi dari tacit knowledge ke explicit knowledge. Proses mengungkapkan dan menterjemahkan tacit knowledge ke dalam konsep yang eksplisit seperti buku, manual, laporan, dan sebagainya.
  3. Combination adalah konversi dari explicit knowledge ke explicit knowledge.            Proses mengkombinasikan explicit knowledge yang berbeda menjadi explicit knowledge yang baru melalui analisis, pengelompokan, dan penyusunan kembali. Alat untuk melakukan proses ini misalnya database dan computer network.
  4. Internalization adalah konversi dari explicit knowledge ke tacit knowledge. Proses penyerapan explicit knowledge, terjadi ketika explicit knowledge dimanfaatkan bersama (sharing) melalui organisasi dan jaringan informasi untuk memperluas mengkerangkakan kembali (reframe) dan mengembangkan tacit knowledge-nya. Biasanya dilakukan melalui belajar sambil bekerja atau melakukan simulasi (lihat Kirk, 1999; Malhotra, 1997; Malhotra, 2000).
Proses Pengadaan Pengetahuan
         Pengadaan pengetahuan merupakan langkah mengumpulkan aset-aset pengetahuan yang dihasilkan oleh proses penciptaan pengetahuan. Pengetahuan tidak hanya dapat diraih dari buku manual atau literatur, tetapi pengetahuan juga dapat diraih dengan metafora, intuisi, dan pengalaman.
         Peran perpustakaan pada tahap ini adalah menciptakan penyimpanan pengetahuan (create knowledge repositories) yang terintegrasi dengan sistem perpustakaan, misalnya: database buku, jurnal dan lain-lain.
         Pengadaan pengetahuan lazim juga disebut juga dengan perekaman pengetahuan (knowledge capture). Proses knowledge capture memerlukan kemampuan penyimpanan dan kode yang terprogram untuk menyimpan modal pengetahuan dalam bentuk terbacakan mesin.
         Kegiatan dalam proses ini misalnya: untuk tacit melalui wawancara, brainstroming, konsultasi, dll.; untuk explicit dengan pembelian buku, download, fotokopi, dll.
Penyaringan Pengetahuan
         Dalam praktiknya pengetahuan diperoleh melalui suatu seleksi atau proses penyaringan (filtering process). Proses ini berguna untuk mempertimbangkan mana informasi yang tepat untuk digunakan dan mana yang harus diabaikan. Keputusan untuk meneriman atau menolak sangat bergantung pada persepsi atau relevansi informasi dalam konteks kedekatan (immediate context). Elemen dasar seperti proses yang digambarkan berikut, menunjukkan bahwa seseorang harus memutuskan informasi mana yang akan diambil untuk menambah tempat penyimpanan pengetahuannya.
         Faktor utama yang menentukan mana informasi yang akan dinilai, adalah relevansi informasi bagi penerima. Relevansi juga berarti bahwa seseorang akan lebih memperhatikan ke informasi yang berhubungan dengan minatnya atau kepada problem yang sedang dihadapi.
         Kegiatan ini lebih dekat kepada pengolahan explicit knowledge, atau knowledge yang telah terekam. Di tingkat organisasi misalnya seperti perpustakaan dikenal dengan istilah klasifikasi, yaitu kegiatan yang berhubungan dengan representasi pengetahuan yaitu penomoran bahan pustaka. Pemberian nomor berdasarkan klasifikasi desimal DDC untuk koleksi berbentuk hardcopy. Sedang dalam lingkungan internet (web resource description and discovery), untuk koleksi berbentuk digital digunakan standar metadata Dublin Core.
         Metadata adalah data yang terstruktur, dilengkapi dengan kode, mendeskripsikan ciri-ciri satuan-satuan pembawa informasi, dan membantu identifikasi, penemuan, penilaian, dan pengelolaan satuan pembawa informasi tersebut (Aditirto, 2001: 10).
Sistem Organisasi Pengetahuan atau Knowledge Organization Systems (KOSs)
         Sistem Organisasi Pengetahuan atau Knowledge Organization Systems (KOSs) untuk perpustakaan digital dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
         Daftar istilah (term list), yang menekankan pada daftar istilah bahkan dengan definisinya. Kelompok ini terdiri dari authority files, glossary, kamus dan gazetteer.
         Klasifikasi dan kategori-kategori (classification and categories), yang menekankan pada pembuatan seperangkat subyek, yang terdiri dari tajuk subyek, bagan klasifikasi, taksonomi, dan bagan kategori.
         Daftar antar-hubungan (relationship list), yang menekankan pada hubungan antar istilah-istilah dan konsep-konsep yang terdiri atas thesaurus, semantic network dan ontologis.
         Sistem organisasi pengetahuan ini digunakan untuk organisasi materi dan tujuan mengelola koleksi dan sistem temu kembali. Sistem bertindak sebagai jembatan antara kebutuhan informasi pemakai dengan materi dalam koleksi.
         Untuk kegiatan dalam organisasi misal seperti perpustakaan rules yang digunakan dalam proses ini telah berbentuk tertulis. Misalnya: Standar klasifikasi desimal (DDC), Dublin Core, KOSs, dll. Namun jika kegiatan tersebut dilakukan oleh agen, rules tergantung pada bagaimana ia mengorganisasi pengetahuan yang ia miliki. Misal: dengan membuat struktur kategori folder di komputer berdasarkan bidang-bidang tertentu, dll.
Penyimpanan Pengetahuan
         Kegiatan pengorganisasian selalu diikuti dengan kegiatan penyimpanan. Jika kegiatan dilakukan di tingkat organisasi, pengetahuan disimpan dalam penyimpanan pengetahuan (knowledge repository) misalnya: server, yang dapat diakses secara kolektif untuk pemanfaatan bersama. Adanya knowledge repository ini dan ketersediaan data di dalamnya merupakan prasyarat terjadinya pertukaran dan penggabungan pengetahuan yang memungkinkan terciptanya pengetahuan baru.
         Teknologi informasi yang dapat digunakan dalam proses ini adalah Relational Database Management System (RDBMS), misalnya: database katalog seperti OPAC, WEBPAC dll.
         Untuk tingkat individu biasanya proses ini dilakukan sendiri-sendiri dan tergantung pada individu yang melakukan proses. Biasanya pengetahuan disimpan dalam penyimpanan milik pribadi, misalnya harddisk komputer kerja atau komputer sendiri, USB dan disket.

 Penyebaran dan Akses Pengetahuan
         Penyebaran pengetahuan bisa dilakukan dengan meningkatkan akses (improve knowledge access) dan transfer pengetahuan organisasi, seperti melalui penciptaan jaringan pakar (expert networks) di mana individu dengan keahlian yang diharapkan, terorganisasi secara formal dalam suatu jaringan dan melakukan kontak satu sama lain, menggalang komunitas dengan minat yang sama (creating a community of interest).
         Strategi penyebaran pengetahuan dapat berdasarkan permintaan pemakai misalnya untuk akses secara langsung dan cepat terhadap sumber-sumber pengetahuan, dan kapasitas teknologi untuk menyebarkan informasi secara simultan dan murah. Hal tersebut dimungkinkan oleh kecanggihan dan keterjangkauan situs Internet sebagai jalan raya informasi global, yang terbuka untuk semua orang dengan sarana komputer, modem dan telepon (lihat Fahmi, 2001)
Pemanfaatan Pengetahuan
         Pemanfaatan pengetahuan explicit (dengan cara akses dan sharing) dan tacit (dengan cara dialog dan learning) akan melahirkan ide-ide baru yang menjadi awal terciptanya pengetahuan baru. Proses ini terjadi, hanya dimungkinkan terbukanya akses ke sumberdaya pengetahuan kolektif.
         Akses pengetahuan adalah suatu proses pengambilan (extraction) pengetahuan dari knowledge repository.
         Beberapa hal yang berkaitan dengan akses adalah:  keanggotaan (membership), ketersediaan data (misal: full teks, abstrak, dll.), dan layanan yang bersifat terbuka untuk siapa saja. Teknologi yang dibutuhkan dalam proses ini adalah teknologi untuk knowledge sharing.
            Dengan mengelola knowledge, maka pustakawan akan semakin kreatif dan inovatif sehinggga kemampuannya dalam menghasilkan produk atau melakukan pelayanan meningkat.


2.3. Perpustakaan
2.4. Pengawasan sirkulasi
Jenis/Variasi Bagan Klasifikasi
  • Menurut Ranganathan ada tiga maksud/tujun dasar dari pengorganisasian informasi di perpustakaan
ú  Storage if onformation in helful sequence (menyimpan informasi dalam tata urutan/susunan yang bermanfaat/berguna)
ú  Retrieval on demand or in anticipation of demand information pi-pointely, exhaustively, and irrelevant information (tuntutan/ permintaan untuk temubalik atau untuk mengantisipasi permintaan informasi
Balanced selection of book and other reading materials for a library in correlation to interest of its clientele.
2.5. Landasn teori
2.6.Ilmu perpustakaaan
Ilmu perpustakaan (Inggris: library science) adalah  bidang interdisipliner yang m. enggabungkan ilmu sosial, ilmu hukum, dan ilmu terapan untuk mempelajari topik yang berkaitan dengan perpustakaan. Ilmu perpustakaan ini mempelajari mengenai cara pengumpulan, pengorganisasian, pengawetan, dan penyebarluasan sumber informasi yang ada di suatu perpustakaan, serta berkaitan dengan nilai ekonomi dan politis dari informasi pada umumnya.
Pada mulanya ilmu perpustakaan lebih membahas mengenai ilmu pengarsipan. Hal ini berkaitan dengan cara penataan sumber informasi dengan sistem klasifikasi perpustakaan dan teknologi untuk mendukung maksud ini. Topik ini juga berkaitan dengan bagaimana pengguna jasa informasi ini mengakses, menelusuri, dan memanfaatkan informasi. Dan satu aspek lagi yang tidak kalah penting adalah etika dalam penataan dan pelayanan informasi, serta status legal dari suatu perpustakaan sebagai sumber informasi.
Secara akademis, mata kuliah dalam ilmu perpustakaan biasanya meliputi: manajemen koleksi, sistem informasi dan teknologi, kataloging, klasifikasi, cara pengawetan, referensi, statistika dan manajemen. Ilmu perpustakaan juga berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi komputer, oleh karena itu topik tentang sistem informasi manajemen, manajemen basis data, arsitektur informasi, dan manajemen pengetahuan juga menjadi bagian mata kuliah penting dalam pembahasan ilmu perpustakaan menuju suatu perpustakaan digital. Ilmu Perpustakaan biasanya juga berhubungan dengan dokumentasi dan kearsipan.
2.8  pengklasifikasian informasi
l  Klasifikasi adalah kegiatan pengindeksan subjek yang menghasilkan nomor kelas (notasi) sebagai deskripsi indeks.
l  Nomor klasifikasi ditentukan dengan menggunakan sarana bantu standar internasional seperti:
¡  Dewey Decimal Classification (DDC)
¡  Universal Decimal Classification (UDC)
¡   Library of Congress Classification (LC), dll
l  Berikut ini adalah sepuluh golongan utama berdasarkan DDC:
000 Karya-karya umum
100 Filsafat dan psikologi
200 Agama
300 Ilmu-ilmu sosial
400 Bahasa
500 Ilmu-ilmu murni
600 Teknologi (ilmu terapan)
700 Kesenian
800 Kesusasteraan
900 Geografi, Biografi, Sejarah









BAB III

GAMBARAN UMUM

3.1 Jenis Perpustakaan
            Perpustakaan sebagai objek observasi penulis adalah perpustakaan sekolah. Pemilihan ini berdasarkan kemempuan penuis sebagai pemula dalam meniti jenjang perkuliahan. Perpustakaan sekolah terasa slebih mudah dari pada perpustakaan yang lainnya seperti perpustakaan daerah, perpustakan universitas dan yang lainnya.  








BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.1  SEJARAH SINGKAT
                  Perpustakaan  Madrasah Aliyah Negeri ( MAN ) 1 Medan  yang beralamat di Jl. Willeam Iskandar  No. 7B  Medan – Sumatera Utara 20222 , dan berdiri pada tahun  1993.       ,
4.2  GEDUNG PERPUSTAKAAN
                  Gedung perpustakaan dengan volume  bangunan sekitar  320 m3   , dengan Panjang  20 m,  Lebar 8 m,  dan Tinggi 4 m  difasilitasi dengan :
                          > Tempat membaca;                                                                                                                            > Tempat Sirkulasi Umum;                                                                                                                      > Tempat Pengolahan;                                                                                                       > Tempat sholat ,dan kamar mandi.
  
4.3  FUNGSI DAN TUJUAN
1.      Fungsi :
> Pendidikan;
> menyebarkan informasi;
> Rekreasi;
> Dokumentasi;
> Sumber kebudayaan;

                   2.Tujuan   
                          > Menyediakan Bahan Pustaka;                                                                                                                     > Menimbulkan minat baca siswa-siswi;                                                                                             > Menambah pengetahuan siswa-siswi;                                                                                                   > Mengembangankan Informasi budaya ;                                                                                    > Menyediakan tempat belajar.

4.4  STAF PERPUSTAKAAN
           Staf perpustakaan MAN 1 Medan   saat ini hanya berjumlah tiga orang sebagai berikut:
NO
NAMA
TUGAS
1.
Latifa Hanum, S.pdi
Pustakawan
2.
Sri Rahma Wati, S.pdi
Pustakawan
3.
Rahmat Baktiar
Pustakawan
           
                          Ketiga pustakawan  ini yang melakukan semua kegiatan diperpustakaan yang meliputi pengadaan sampai Peminjaman.                                                                                                                                                                                                                       

4.5  LAYANAN
a.       Jenis Layanan Perpustakaan :
 > Buku referensi (ensiklopedia,,kamus )                                                     
 > Koleksi Umum ( majalah, novel )
b.      Peraturan peminjaman buku di Perpustakaan :                                                          
                     > Buku yang hilang  atau rusak ditanggung oleh sipeminjam;                                          >  Buku hanya dapat dipinjamkan jika memperlihatkan kartu                                              peminjam;                                                                                        
                     > Buku-buku yang berharga , kamus ,ensiklopedia, dan buku yang  2                                  (dua)  set tidak dipinjamkan;                                                                                        >  Keterlambatan  mengambalikan   buku dikenakan denda Rp 100; /                                    hari                                                           
              >  Jangka waktu peminjaman 1 minggu ;                                                   
               >  Mengisi daftar  pengunjung;                                                                 
               >  dan Peminjam harus menaati peraturan Perpustakaan.                 
c.       Jam  layanan                                                                                                                >  Perpustakaan buka hari senin s/d sabtu                                                                      > Jam layanan: pukul 09.00-13.00
4.6  PENGADAAN
         Pengadaan bahan pustaka di Perpustakaan  MAN 1 Medan  dilakukan melalui:                                                                
  1. Bantuan dari Dinas Pendidikan;                                                                                           
  2.  Bantuan dari sekolah-sekolah lain;                                                                                                                                                 
  3.   Kenang-kenangan dari siswa-siswi alumni;                                                                         
  4.  Partisipasi Bapak/ Ibu guru dari  MAN 1.Medan;                                                                                                       
  5.  Bantuan dari departemen Agama
  6. Dan dorongan dari masyarakat .
                    
4.7  PROSES SELEKSI BAHAN PUSTAKA
               Proses  seleksi bahan pustaka di perpustakaan ini berdasarkan  kebutuhan  pelajar.    Alat bantu yang digunakan dalam  proses seleksi menggunakan data secara manual.

4.8  JUMLAH KOLEKSI BERDASARKAN JENIS

NO

JENIS KOLEKSI
JUMLAH
TA.12/13
JUDUL
EKSEMPLAR
1
Buku
1850
3250








BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.1  KESIMPULAN
            Perpustakaan Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan merupakan perpustakaan sekolah  yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan pendidikan Aliyah  . Perpustakaan mempunyai tujuan utama untuk membantu meningkatkan mutu pendidikan siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri 1. Medan.
5.1.2  SARAN
Saran penulis adalah sebagai berikut:
1. Perlunya perubahan system dari manual kesistem komputerisasi.
2. Memperbaharui atau menambah koleksi perpustakaan sesuai denga kurikulum.
3. Perlunya penambahan ruangan.
4. Penambahan Staf.








DAFTAR PUSTAKA
Dewiyana, Himma.2012.Knowledge Management. ; Medan
Hasugian, Jonner.2009. Pengantar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Medan : USU Press